Consideration

Hybrid Cloud Architecture — Desain On-Premise + Cloud

Hybrid cloud bukan “semua ke cloud” — melainkan penempatan workload tepat antara on-premise, private cloud, dan public cloud dengan kontrol data dan biaya.

Prinsip penempatan workload (placement)

Workload dengan data sensitif, latency rendah ke ERP lokal, atau lisensi per-core mahal sering tetap on-premise. Burst compute, DR target, dan layanan managed (object storage, CDN) cocok di public cloud.

Dokumentasikan klasifikasi data (regulated, internal, public) sebelum memilih region cloud dan model konektivitas.

Konektivitas dan keamanan

Site-to-site VPN, dedicated link (MPLS/SD-WAN), atau ExpressRoute-equivalent menentukan throughput dan latency ke cloud. Segmentasi: hub-spoke, firewall di kedua sisi, dan logging terpusat ke SIEM.

Identity federation (Entra ID/AD) dan kebijakan akses bersyarat menjadi fondasi hybrid — bukan hanya VPN “pintu terbuka”.

Backup, DR, dan operasi

Backup tiering: snapshot lokal, replikasi ke cloud object storage immutable, dan runbook restore antar-environment. FinOps: tagging resource, budget alert, dan review idle VM/cloud disk bulanan.

Intilogy merancang hybrid yang realistis untuk perusahaan Indonesia — assessment, migrasi terkontrol, dan integrasi keamanan existing.

Pertanyaan umum

Apakah hybrid selalu lebih murah?

Tidak otomatis. Tanpa governance, biaya cloud egress dan resource orphan bisa melebihi on-premise. Hybrid unggul pada fleksibilitas dan DR, bukan selalu TCO terendah.

Halaman terkait

Butuh penawaran atau rekomendasi solusi IT?

Kirim kebutuhan singkat — tim Intilogy akan menghubungi Anda untuk BoQ, sourcing, dan langkah implementasi.

Konsultasi via WhatsApp
Minta Konsultasi WhatsApp