01
Latar Belakang & Profil Klien
Sebuah perusahaan manufaktur multinasional di kawasan industri Bekasi dengan lebih dari 2.000 karyawan dan sistem ERP terintegrasi mengalami pertumbuhan data eksponensial. Data center lama mereka yang berusia 8 tahun sudah tidak mampu menangani beban kerja, dengan utilisasi CPU mencapai 95% dan storage hampir penuh. Perusahaan ini memiliki dua site utama: pabrik dan kantor pusat, serta beberapa gudang di Jawa Timur. Mereka membutuhkan migrasi ke data center baru yang lebih scalable dan resilient, dengan minimal downtime karena operasi produksi berjalan 24/7.
Klien ini sebelumnya menggunakan server HP ProLiant generasi lama dan storage HP 3PAR, serta menjalankan aplikasi critical seperti SAP ERP dan sistem MES (Manufacturing Execution System). Infrastruktur jaringan menggunakan switch Cisco Catalyst 2960 yang sudah end-of-life. Mereka juga memiliki sistem backup menggunakan tape drive yang memakan waktu 24 jam untuk full backup. Dengan rencana ekspansi ke luar Jawa, mereka membutuhkan data center yang mampu mendukung replikasi antar-site dan disaster recovery.
02
Tantangan Teknis / Challenge
Tantangan utama adalah downtime yang sangat terbatas. Proses produksi tidak boleh berhenti lebih dari 2 jam karena setiap jam downtime menyebabkan kerugian hingga Rp 500 juta. Selain itu, database SAP berukuran 2 TB harus dimigrasi tanpa kehilangan data dan dengan RPO (Recovery Point Objective) kurang dari 1 jam. Infrastruktur jaringan yang sudah tua menyebabkan latency tinggi antara pabrik dan kantor pusat, mencapai 50 ms, sehingga replikasi data real-time tidak optimal. Storage existing memiliki IOPS yang rendah, hanya 5.000 IOPS, sehingga performa aplikasi melambat pada jam sibuk. Terakhir, tim IT internal hanya terdiri dari 3 orang yang tidak memiliki pengalaman migrasi skala besar, sehingga membutuhkan pendampingan penuh dari vendor.
Selain itu, klien menghadapi kendala regulasi: data produksi harus disimpan di Indonesia sesuai UU ITE, sehingga solusi cloud publik tidak dapat digunakan sepenuhnya. Mereka membutuhkan solusi hybrid dengan on-premise untuk data sensitif dan cloud untuk workload non-critical. Listrik di lokasi pabrik sering mengalami fluktuasi, sehingga perlu UPS dan generator yang andal. Terakhir, integrasi dengan sistem lama seperti AS/400 untuk inventory masih diperlukan, menambah kompleksitas migrasi.
03
Solusi yang Diimplementasikan
Kami mendesain arsitektur data center baru menggunakan hyperconverged infrastructure (HCI) dari VMware vSAN dan server Lenovo ThinkSystem SR650. Solusi ini menggabungkan komputasi, storage, dan jaringan dalam satu platform, sehingga mudah diskalakan. Untuk backup dan disaster recovery, kami implementasi Veeam Backup & Replication dengan target RPO 15 menit dan replikasi ke site sekunder di Surabaya menggunakan jaringan Cisco MPLS. Storage all-flash dari Dell EMC PowerStore dipilih untuk memberikan IOPS hingga 1 juta, meningkatkan performa database SAP. Migrasi dilakukan secara bertahap dengan metode lift-and-shift untuk aplikasi non-critical, sementara SAP dimigrasi menggunakan sistem replikasi log database.
Untuk mengatasi downtime minimal, kami gunakan VMware vMotion untuk migrasi live VM tanpa henti. Jaringan baru menggunakan Cisco Catalyst 9300 dengan SD-Access untuk segmentasi dan QoS. Kami juga pasang Fortinet FortiGate sebagai next-generation firewall untuk keamanan perimeter. Untuk manajemen, kami deploy Microsoft System Center untuk monitoring dan automation. Proyek ini melibatkan tim Intilogy yang terdiri dari arsitek solusi, engineer, dan project manager yang bekerja sama dengan tim internal klien selama 6 bulan.
04
Hasil & Dampak Bisnis / Result
Setelah migrasi, performa aplikasi meningkat drastis. Waktu eksekusi laporan SAP yang sebelumnya 30 menit kini hanya 3 menit. Downtime total selama migrasi hanya 1,5 jam, di luar jam produksi. RPO turun dari 24 jam menjadi 15 menit, dan RTO (Recovery Time Objective) dari 48 jam menjadi 2 jam. Biaya operasional data center turun 40% karena konsolidasi server dari 30 fisik menjadi 8 host HCI. Konsumsi listrik berkurang 60% berkat penggunaan server modern dan virtualisasi. Kini, klien dapat melakukan replikasi data antar-site secara real-time, mendukung rencana ekspansi mereka ke Sumatra.
Selain itu, tim IT internal kini dapat mengelola infrastruktur dengan lebih mudah melalui dashboard terpusat. Keamanan data meningkat dengan enkripsi end-to-end dan kebijakan akses berbasis role. Klien juga berhasil memenuhi kepatuhan UU ITE karena data tetap berada di Indonesia. Dengan solusi backup dan disaster recovery yang handal, mereka siap menghadapi bencana alam atau kegagalan sistem. Secara bisnis, produktivitas meningkat karena aplikasi tidak lagi lambat, dan mereka dapat mengadopsi teknologi IoT untuk smart manufacturing di masa depan. Intilogy terus memberikan layanan infrastruktur managed services untuk memastikan kestabilan operasional.