Solusi IT Enterprise

Software Licensing untuk Enterprise Indonesia

Software licensing di Indonesia merupakan tantangan kompleks bagi perusahaan enterprise, terutama dengan maraknya audit kepatuhan dari vendor global seperti Microsoft, VMware, dan Oracle. Banyak perusahaan masih menggunakan lisensi secara tidak optimal, baik karena over-licensing yang membuang anggaran, maupun under-licensing yang berisiko denda dan sanksi hukum. Di Indonesia, regulasi seperti UU ITE dan standar ISO 27001 semakin menekankan pentingnya manajemen lisensi yang transparan dan terdokumentasi. Solusi Software Licensing dari Intilogy mencakup assessment menyeluruh terhadap infrastruktur IT eksisting, identifikasi model lisensi yang tepat (misalnya per-core, per-user, atau subscription), serta konsolidasi lisensi untuk mengurangi biaya berulang. Kami bekerja sama dengan vendor utama seperti Microsoft, VMware, Red Hat, dan Oracle untuk memastikan kepatuhan dan optimalisasi. Layanan kami meliputi audit lisensi, negosiasi volume pricing, dan implementasi Software Asset Management (SAM) tools seperti Flexera atau Snow. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menghemat 20-30% biaya lisensi tahunan, mengurangi risiko audit, dan meningkatkan fleksibilitas dalam adopsi teknologi baru seperti hybrid cloud. Di Indonesia, sektor perbankan, manufaktur, dan ritel menjadi yang paling membutuhkan solusi ini karena kompleksitas lingkungan IT mereka. Intilogy telah membantu banyak perusahaan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung dalam merancang arsitektur lisensi yang scalable dan compliant. Kami juga menyediakan dukungan berkelanjutan untuk pembaruan lisensi dan perubahan regulasi. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, Intilogy adalah mitra terpercaya untuk Software Licensing di Indonesia, memastikan setiap lisensi yang dibayarkan memberikan nilai maksimal bagi bisnis Anda.

Arsitektur Software Licensing Enterprise

Arsitektur software licensing yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang model lisensi vendor dan bagaimana mereka berinteraksi dengan infrastruktur IT. Di lingkungan enterprise, lisensi biasanya dibedakan menjadi per-device (perangkat), per-user (pengguna), atau per-core (untuk server). Misalnya, Microsoft menggunakan model per-core untuk SQL Server dan Windows Server, sementara VMware vSphere menggunakan per-CPU. Arsitektur yang baik harus mempertimbangkan virtualisasi, container, dan cloud hybrid. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan lisensi perpetual, namun tren beralih ke subscription model (seperti Microsoft 365 atau Azure Hybrid Benefit) untuk mengurangi biaya upfront. Intilogy merancang arsitektur lisensi dengan melakukan inventarisasi aset software, memetakan dependensi aplikasi, dan memilih model lisensi yang paling sesuai. Kami juga mengintegrasikan Software Asset Management (SAM) tools untuk monitoring real-time dan pelaporan. Contoh arsitektur: untuk perusahaan dengan 500 server virtual, kami merekomendasikan lisensi Windows Server Datacenter (per-core) untuk mengoptimalkan virtualisasi tak terbatas, dikombinasikan dengan Software Assurance untuk upgrade rights. Untuk database, SQL Server Enterprise Edition dengan lisensi per-core + SA memberikan fleksibilitas untuk disaster recovery. Integrasi dengan solusi Hyperconverged Infrastructure (HCI) juga perlu diperhitungkan, karena lisensi harus mencakup seluruh node cluster. Dengan arsitektur yang tepat, perusahaan dapat menghindari pemborosan dan siap menghadapi audit vendor.

Pertimbangan lain adalah lisensi untuk lingkungan multi-cloud. Misalnya, jika perusahaan menggunakan AWS atau Azure, lisensi Microsoft dapat dibawa (bring-your-own-license) dengan syarat tertentu. Kami membantu klien memanfaatkan Azure Hybrid Benefit untuk menghemat hingga 40% biaya lisensi Windows Server dan SQL Server di cloud. Selain itu, untuk Linux dan open source, lisensi seperti Red Hat Enterprise Linux (RHEL) menggunakan subscription per node. Arsitektur lisensi juga harus mencakup manajemen lisensi untuk container (misalnya, Windows Server Core untuk container). Intilogy menggunakan framework ITIL untuk proses manajemen lisensi, mulai dari permintaan, pembelian, hingga retirement. Kami juga menyediakan dashboard yang menampilkan metrik kepatuhan, biaya per departemen, dan sisa masa berlaku lisensi. Dengan arsitektur yang terstruktur, perusahaan dapat menekan biaya lisensi hingga 30% dan mengurangi risiko non-compliance. Untuk informasi lebih lanjut tentang optimalisasi infrastruktur, lihat solusi infrastruktur IT kami.

Perbandingan Model Lisensi: Perpetual vs Subscription vs Open Source

Perbandingan antara software licensing modern dan alternatif tradisional (seperti lisensi perpetual tanpa SA atau open source tanpa dukungan) sangat penting. Lisensi tradisional perpetual memberikan hak pakai selamanya, namun biaya upgrade dan dukungan terpisah. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan model ini karena merasa lebih murah di awal. Namun, tanpa Software Assurance, biaya upgrade ke versi baru bisa sangat mahal. Contoh: Windows Server 2019 perpetual tanpa SA membutuhkan pembelian lisensi baru untuk upgrade ke 2022. Sebaliknya, subscription model seperti Microsoft 365 atau Azure Hybrid Benefit mencakup upgrade otomatis dan support, dengan biaya tahunan yang lebih terprediksi. Untuk database, SQL Server Enterprise dengan SA memberikan hak untuk disaster recovery dan high availability. Alternatif open source seperti MySQL atau PostgreSQL gratis secara lisensi, namun biaya dukungan dan pengembangan internal bisa tinggi. Perusahaan di Indonesia seringkali kekurangan tenaga ahli untuk open source, sehingga total cost of ownership (TCO) bisa lebih besar. Intilogy membantu klien menghitung TCO jangka panjang, termasuk biaya lisensi, support, dan tenaga kerja. Dalam banyak kasus, subscription model memberikan fleksibilitas lebih baik, terutama untuk perusahaan yang tumbuh cepat. Misalnya, startup bisa memulai dengan lisensi per-user dan beralih ke per-core saat scaling. Integrasi dengan Hybrid Cloud juga lebih mudah dengan subscription karena lisensi dapat dipindahkan antar lingkungan.

Namun, ada kelemahan subscription: biaya berulang dan ketergantungan pada vendor. Untuk perusahaan dengan anggaran terbatas, perpetual masih relevan. Kami sering merekomendasikan model hybrid: perpetual untuk server inti, subscription untuk aplikasi yang sering diupdate. Contoh: perusahaan manufaktur menggunakan Windows Server perpetual untuk server produksi, dan Microsoft 365 subscription untuk kantor. Alternatif lain adalah open source dengan dukungan dari vendor seperti Red Hat. Di Indonesia, Red Hat Enterprise Linux banyak digunakan di BUMN karena biaya lisensi lebih rendah dari Windows, namun tetap ada biaya subscription. Intilogy dapat membantu membandingkan opsi dan memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis. Kami juga mempertimbangkan faktor kepatuhan: lisensi open source sering memiliki persyaratan distribusi yang kompleks. Dengan pengalaman kami, klien dapat menghindari jebakan biaya tersembunyi. Untuk solusi lengkap, lihat Server & Storage kami yang terintegrasi dengan lisensi.

Use Case Software Licensing di Industri Indonesia

Di industri perbankan, software licensing menjadi kritis karena regulasi ketat dan kebutuhan high availability. Contoh: Bank di Jakarta dengan 2000 karyawan menggunakan Microsoft 365 E5 untuk keamanan dan kepatuhan, serta SQL Server Enterprise untuk transaksi. Dengan bantuan Intilogy, mereka mengkonsolidasi lisensi dari 3 kontrak berbeda menjadi satu enterprise agreement, menghemat 25% biaya tahunan. Di sektor manufaktur, perusahaan otomotif di Bekasi menggunakan VMware vSphere untuk virtualisasi server produksi. Lisensi per-CPU dengan 16 core per CPU dioptimalkan dengan memilih model per-core untuk mengurangi biaya. Mereka juga mengadopsi Red Hat OpenShift untuk container, dengan lisensi subscription yang fleksibel. Hasilnya, biaya lisensi turun 20% dan waktu provisioning aplikasi berkurang 50%. Di ritel modern, perusahaan retail di Bandung menggunakan lisensi Windows Server untuk POS dan database inventory. Dengan audit lisensi, ditemukan 30% server under-licensed, sehingga mereka melakukan true-up dan menghindari denda. Intilogy juga membantu mereka beralih ke Azure Hybrid Benefit untuk server yang dipindahkan ke cloud, menghemat 35% biaya lisensi. Untuk industri kesehatan, rumah sakit di Surabaya membutuhkan lisensi Oracle Database untuk rekam medis. Kami merekomendasikan lisensi per-user (Named User Plus) untuk mengurangi biaya dibanding per-core, karena jumlah pengguna terbatas. Integrasi dengan Backup & Disaster Recovery juga memerlukan lisensi khusus untuk Veeam, yang kami kelola dalam satu dashboard.

Di sektor pemerintahan, lisensi open source seperti Red Hat atau SUSE sering digunakan untuk efisiensi. Contoh: instansi pemerintah di Yogyakarta menggunakan Red Hat Enterprise Linux untuk server aplikasi, dengan lisensi subscription yang mencakup support 24/7. Intilogy membantu mereka melakukan audit dan memastikan tidak ada penggunaan tanpa lisensi. Untuk startup teknologi di Jakarta, lisensi Microsoft Visual Studio dan GitHub Enterprise digunakan untuk pengembangan. Kami menyarankan model subscription untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan tim. Di semua use case, kunci sukses adalah pemahaman mendalam tentang model lisensi vendor dan kemampuan negosiasi. Intilogy memiliki pengalaman dalam menangani audit vendor besar, sehingga klien dapat fokus pada bisnis inti. Jika Anda membutuhkan solusi untuk industri spesifik, hubungi kami untuk konsultasi.

Integrasi Teknologi: SAM Tools dan Cloud Hybrid

Integrasi Software Asset Management (SAM) tools seperti Flexera, ServiceNow, atau Snow Software dengan infrastruktur IT memungkinkan monitoring lisensi secara real-time. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan spreadsheet untuk mengelola lisensi, yang rentan kesalahan. Intilogy mengimplementasikan SAM tools yang terintegrasi dengan Active Directory dan hypervisor untuk mendeteksi instalasi software secara otomatis. Contoh: integrasi dengan VMware vCenter memungkinkan identifikasi VM yang menggunakan Windows Server, sehingga lisensi per-core dapat dihitung secara akurat. Untuk cloud hybrid, integrasi dengan Azure Arc atau AWS License Manager memungkinkan pengelolaan lisensi lintas lingkungan. Misalnya, Azure Hybrid Benefit memungkinkan lisensi Windows Server dan SQL Server on-premise digunakan di Azure tanpa biaya tambahan. Intilogy membantu klien mengkonfigurasi Azure Hybrid Benefit melalui dashboard Azure, serta memonitor penggunaan untuk memastikan kepatuhan. Integrasi juga mencakup container: dengan Kubernetes, lisensi Windows Server Core harus dihitung per container host. Kami menggunakan tools seperti Red Hat OpenShift untuk mengelola lisensi container secara otomatis. Dengan integrasi teknologi ini, perusahaan dapat mengurangi biaya lisensi hingga 40% dan meningkatkan visibilitas aset IT.

Selain itu, integrasi dengan solusi Backup & Disaster Recovery (seperti Veeam) memerlukan lisensi khusus yang harus diselaraskan dengan lisensi server. Intilogy merancang arsitektur lisensi yang mencakup Veeam Backup & Replication dengan lisensi per-socket atau per-VM, tergantung kebutuhan. Untuk lingkungan Hyperconverged Infrastructure (HCI), lisensi seperti VMware vSAN atau Microsoft Storage Spaces Direct harus diintegrasikan dengan lisensi server. Contoh: pada cluster HCI dengan 4 node, lisensi Windows Server Datacenter mencakup hak untuk vSAN, sehingga tidak perlu lisensi tambahan. Intilogy juga mengintegrasikan SAM tools dengan sistem ticketing (seperti ServiceNow) untuk otomatisasi approval pembelian lisensi. Dengan pendekatan terintegrasi, perusahaan dapat mencapai IT asset management yang efisien dan siap menghadapi audit. Untuk informasi lebih lanjut tentang integrasi, lihat solusi Hyperconverged Infrastructure kami.

Arsitektur Software Licensing Enterprise

Arsitektur software licensing yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang model lisensi vendor dan bagaimana mereka berinteraksi dengan infrastruktur IT. Di lingkungan enterprise, lisensi biasanya dibedakan menjadi per-device (perangkat), per-user (pengguna), atau per-core (untuk server). Misalnya, Microsoft menggunakan model per-core untuk SQL Server dan Windows Server, sementara VMware vSphere menggunakan per-CPU. Arsitektur yang baik harus mempertimbangkan virtualisasi, container, dan cloud hybrid. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan lisensi perpetual, namun tren beralih ke subscription model (seperti Microsoft 365 atau Azure Hybrid Benefit) untuk mengurangi biaya upfront. Intilogy merancang arsitektur lisensi dengan melakukan inventarisasi aset software, memetakan dependensi aplikasi, dan memilih model lisensi yang paling sesuai. Kami juga mengintegrasikan Software Asset Management (SAM) tools untuk monitoring real-time dan pelaporan. Contoh arsitektur: untuk perusahaan dengan 500 server virtual, kami merekomendasikan lisensi Windows Server Datacenter (per-core) untuk mengoptimalkan virtualisasi tak terbatas, dikombinasikan dengan Software Assurance untuk upgrade rights. Untuk database, SQL Server Enterprise Edition dengan lisensi per-core + SA memberikan fleksibilitas untuk disaster recovery. Integrasi dengan solusi Hyperconverged Infrastructure (HCI) juga perlu diperhitungkan, karena lisensi harus mencakup seluruh node cluster. Dengan arsitektur yang tepat, perusahaan dapat menghindari pemborosan dan siap menghadapi audit vendor.

Perbandingan Model Lisensi: Perpetual vs Subscription vs Open Source

Perbandingan antara software licensing modern dan alternatif tradisional (seperti lisensi perpetual tanpa SA atau open source tanpa dukungan) sangat penting. Lisensi tradisional perpetual memberikan hak pakai selamanya, namun biaya upgrade dan dukungan terpisah. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan model ini karena merasa lebih murah di awal. Namun, tanpa Software Assurance, biaya upgrade ke versi baru bisa sangat mahal. Contoh: Windows Server 2019 perpetual tanpa SA membutuhkan pembelian lisensi baru untuk upgrade ke 2022. Sebaliknya, subscription model seperti Microsoft 365 atau Azure Hybrid Benefit mencakup upgrade otomatis dan support, dengan biaya tahunan yang lebih terprediksi. Untuk database, SQL Server Enterprise dengan SA memberikan hak untuk disaster recovery dan high availability. Alternatif open source seperti MySQL atau PostgreSQL gratis secara lisensi, namun biaya dukungan dan pengembangan internal bisa tinggi. Perusahaan di Indonesia seringkali kekurangan tenaga ahli untuk open source, sehingga total cost of ownership (TCO) bisa lebih besar. Intilogy membantu klien menghitung TCO jangka panjang, termasuk biaya lisensi, support, dan tenaga kerja. Dalam banyak kasus, subscription model memberikan fleksibilitas lebih baik, terutama untuk perusahaan yang tumbuh cepat. Misalnya, startup bisa memulai dengan lisensi per-user dan beralih ke per-core saat scaling. Integrasi dengan Hybrid Cloud juga lebih mudah dengan subscription karena lisensi dapat dipindahkan antar lingkungan.

Alur kerja

Delivery terstruktur dari assessment hingga handover

Setiap fase punya deliverable, owner, dan kriteria acceptance yang selaras praktik IT enterprise.

Pendekatan

Use Case Software Licensing di Industri Indonesia

Di industri perbankan, software licensing menjadi kritis karena regulasi ketat dan kebutuhan high availability. Contoh: Bank di Jakarta dengan 2000 karyawan menggunakan Microsoft 365 E5 untuk keamanan dan kepatuhan, serta SQL Server Enterprise untuk transaksi. Dengan bantuan Intilogy, mereka mengkonsolidasi lisensi dari 3 kontrak berbeda menjadi satu enterprise agreement, menghemat 25% biaya tahunan. Di sektor manufaktur, perusahaan otomotif di Bekasi menggunakan VMware vSphere untuk virtualisasi server produksi. Lisensi per-CPU dengan 16 core per CPU dioptimalkan dengan memilih model per-core untuk mengurangi biaya. Mereka juga mengadopsi Red Hat OpenShift untuk container, dengan lisensi subscription yang fleksibel. Hasilnya, biaya lisensi turun 20% dan waktu provisioning aplikasi berkurang 50%. Di ritel modern, perusahaan retail di Bandung menggunakan lisensi Windows Server untuk POS dan database inventory. Dengan audit lisensi, ditemukan 30% server under-licensed, sehingga mereka melakukan true-up dan menghindari denda. Intilogy juga membantu mereka beralih ke Azure Hybrid Benefit untuk server yang dipindahkan ke cloud, menghemat 35% biaya lisensi. Untuk industri kesehatan, rumah sakit di Surabaya membutuhkan lisensi Oracle Database untuk rekam medis. Kami merekomendasikan lisensi per-user (Named User Plus) untuk mengurangi biaya dibanding per-core, karena jumlah pengguna terbatas. Integrasi dengan Backup & Disaster Recovery juga memerlukan lisensi khusus untuk Veeam, yang kami kelola dalam satu dashboard.

  • Di sektor pemerintahan, lisensi open source seperti Red Hat atau SUSE sering digunakan untuk efisiensi. Contoh: instansi pemerintah di Yogyakarta menggunakan Red Hat Enterprise Linux untuk server aplikasi, dengan lisensi subscription yang mencakup support 24/7. Intilogy membantu mereka melakukan audit dan memastikan tidak ada penggunaan tanpa lisensi. Untuk startup teknologi di Jakarta, lisensi Microsoft Visual Studio dan GitHub Enterprise digunakan untuk pengembangan. Kami menyarankan model subscription untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan tim. Di semua use case, kunci sukses adalah pemahaman mendalam tentang model lisensi vendor dan kemampuan negosiasi. Intilogy memiliki pengalaman dalam menangani audit vendor besar, sehingga klien dapat fokus pada bisnis inti. Jika Anda membutuhkan solusi untuk industri spesifik, hubungi kami untuk konsultasi.

Kemampuan

Integrasi Teknologi: SAM Tools dan Cloud Hybrid

Integrasi Software Asset Management (SAM) tools seperti Flexera, ServiceNow, atau Snow Software dengan infrastruktur IT memungkinkan monitoring lisensi secara real-time. Di Indonesia, banyak perusahaan masih menggunakan spreadsheet untuk mengelola lisensi, yang rentan kesalahan. Intilogy mengimplementasikan SAM tools yang terintegrasi dengan Active Directory dan hypervisor untuk mendeteksi instalasi software secara otomatis. Contoh: integrasi dengan VMware vCenter memungkinkan identifikasi VM yang menggunakan Windows Server, sehingga lisensi per-core dapat dihitung secara akurat. Untuk cloud hybrid, integrasi dengan Azure Arc atau AWS License Manager memungkinkan pengelolaan lisensi lintas lingkungan. Misalnya, Azure Hybrid Benefit memungkinkan lisensi Windows Server dan SQL Server on-premise digunakan di Azure tanpa biaya tambahan. Intilogy membantu klien mengkonfigurasi Azure Hybrid Benefit melalui dashboard Azure, serta memonitor penggunaan untuk memastikan kepatuhan. Integrasi juga mencakup container: dengan Kubernetes, lisensi Windows Server Core harus dihitung per container host. Kami menggunakan tools seperti Red Hat OpenShift untuk mengelola lisensi container secara otomatis. Dengan integrasi teknologi ini, perusahaan dapat mengurangi biaya lisensi hingga 40% dan meningkatkan visibilitas aset IT.

  • Selain itu, integrasi dengan solusi Backup & Disaster Recovery (seperti Veeam) memerlukan lisensi khusus yang harus diselaraskan dengan lisensi server. Intilogy merancang arsitektur lisensi yang mencakup Veeam Backup & Replication dengan lisensi per-socket atau per-VM, tergantung kebutuhan. Untuk lingkungan Hyperconverged Infrastructure (HCI), lisensi seperti VMware vSAN atau Microsoft Storage Spaces Direct harus diintegrasikan dengan lisensi server. Contoh: pada cluster HCI dengan 4 node, lisensi Windows Server Datacenter mencakup hak untuk vSAN, sehingga tidak perlu lisensi tambahan. Intilogy juga mengintegrasikan SAM tools dengan sistem ticketing (seperti ServiceNow) untuk otomatisasi approval pembelian lisensi. Dengan pendekatan terintegrasi, perusahaan dapat mencapai IT asset management yang efisien dan siap menghadapi audit. Untuk informasi lebih lanjut tentang integrasi, lihat solusi Hyperconverged Infrastructure kami.

Contoh kebutuhan

Pengadaan greenfield

Refresh infrastruktur

Multi-vendor consolidation

Renewal lisensi

Ekspansi cabang

Software Licensing untuk Enterprise Indonesia

Tim engineer kami siap membantu desain, deploy, dan dukungan solusi IT enterprise di seluruh Indonesia.

Minta penawaran Hubungi tim kami

Halaman terkait

E-E-A-T · Keahlian & kepercayaan

Keahlian implementasi & kepercayaan enterprise

Intilogy (PT. Inti Jaya Teknologi) mendampingi tim IT dan procurement perusahaan di Indonesia — dari assessment teknis dan BoQ hingga deployment, dokumentasi, dan dukungan pasca-go-live.

  • 500+ Deployment infrastruktur
  • 24/7 Dukungan operasional
  • SLA Enterprise support
  • 150+ Klien & institusi

Keahlian engineer & delivery

Engineer-led assessment

Workshop kebutuhan, sizing, dan desain arsitektur — bukan penjualan katalog tanpa konteks teknis.

Deployment terdokumentasi

Checklist commissioning, diagram as-built, IP plan, dan runbook eskalasi untuk tim internal Anda.

Procurement audit-ready

BoQ/BOM, quotation, PO, dan serah terima yang dapat dilampirkan pada proses tender atau audit IT.

Koordinasi multi-vendor

Satu mitra proyek untuk server, jaringan, keamanan, backup, dan lisensi — mengurangi finger-pointing saat insiden.

Ekosistem vendor & jalur pengadaan

Kami mengadakan melalui distributor/reseller resmi sesuai brand dan proyek. Status partnership spesifik (tier, authorized) diverifikasi per tender — lihat halaman sertifikasi.

Vendor Status / tier Lingkup Catatan
Dell Technologies Authorized channel PowerEdge, storage (sesuai proyek) BoQ & garansi manufacturer
HPE Authorized channel ProLiant, networking (sesuai proyek) iLO, firmware lifecycle
Lenovo Authorized channel ThinkSystem Enterprise server
Fortinet Implementation partner NGFW, SD-WAN, security fabric Lisensi & deployment
Sophos Implementation partner NGFW, endpoint, email Central management
Veeam Implementation partner Backup, replication, M365 Immutable repo design
Cisco Arsitektur Jaringan Router dan Switch Sesuai program resmi
VMware Implementation partner vSphere, DR integration Cluster design & migrasi
QNAP / Synology Authorized channel Enterprise NAS Backup target & file services

Tier dan status distributor dapat berbeda per SKU/region. Untuk surat distributor atau sertifikat engineer terbaru, hubungi sales@intilogy.com.

Metodologi implementasi enterprise

Alur standar yang kami terapkan pada proyek infrastruktur, keamanan, dan backup — disesuaikan ruang lingkup kontrak.

  1. Discovery & assessment

    Durasi: 1–2 minggu

    Deliverable Laporan kebutuhan, risiko, dan prioritas

  2. Architecture & BoQ

    Durasi: 1–2 minggu

    Deliverable HLD, BoQ/BOM, jadwal phased rollout

  3. Procurement & staging

    Durasi: 2–4 minggu

    Deliverable Asset register, staging config

  4. Implementation & UAT

    Durasi: 2–6 minggu

    Deliverable As-built, UAT sign-off

  5. Handover & operasi

    Durasi: Berkelanjutan

    Deliverable SOP, training, SLA support (jika dikontrak)

Dukungan & SLA (sesuai kontrak proyek)

Level layanan didefinisikan per perjanjian — contoh kerangka di bawah untuk maintenance pasca-go-live.

Standard maintenance

Respons
Next business day (remote)
Cakupan
Firmware advisory, ticket routing, RMA coordination
Catatan
Jam kerja Indonesia

Project warranty support

Respons
Sesuai kontrak implementasi
Cakupan
Defect pada scope deployment Intilogy
Catatan
Bukan SLA 24/7 kecuali disepakati

Critical incident (opsional)

Respons
4–8 jam (jika dikontrak)
Cakupan
Eskalasi insiden produksi kritikal
Catatan
Memerlukan MSA terpisah

Angka respons bersifat ilustrasi — mengikat hanya jika tercantum dalam kontrak atau SLA tertulis.

Dokumentasi teknis yang diserahkan

  • Diagram topologi & rack elevation (as-built)
  • Daftar asset, serial number, dan garansi
  • Konfigurasi kritis (tanpa password) & change log
  • Runbook operasi dasar & kontak eskalasi
  • Laporan uji restore / DR drill (jika dalam scope)
  • Buat tender: surat distributor & daftar sertifikat engineer (on request)

Kompetensi & sertifikasi

Tim engineer kami mengikuti pelatihan vendor sesuai teknologi proyek. Sertifikat individu (Fortinet NSE, VMware VCP, Veeam VMCE, dll.) dilampirkan pada kebutuhan tender — bukan dipublikasikan semua di web.

  • Engineer certifications — Per teknologi proyek — verifikasi on request
  • Distributor / reseller letters — Untuk audit procurement
  • Implementation references — Logo klien & ruang lingkup proyek (halaman Klien)

Lihat sertifikasi & kemitraan

Pertanyaan umum

Apa deliverable procurement Intilogy?

BoQ/BoM detail, penawaran resmi, alternatif spesifikasi setara, timeline delivery, dan dokumentasi garansi — siap untuk proses approval internal.

Apakah bisa procurement tanpa implementasi?

Ya — pengadaan saja (supply-only) atau bundled dengan implementasi sesuai kebijakan dan SLA yang disepakati.

Siap diskusi arsitektur & BoQ?

Tim kami membantu assessment, rekomendasi, pengadaan, dan implementasi terdokumentasi.

WhatsApp Konsultasi via WhatsApp
Minta Konsultasi WhatsApp